Sabtu, 14 November 2015

Boleh Dibeli Waktunya...?!

Ada orang yang merasa kehabisan waktu, berlalu sedemikian cepat.

Ada pula yang bingung cara menghabiskan waktu.

A. Kelebihan Waktu (Nganggur)

Suatu ketika di hari raya, al-Qadhi Syuraih keluar menuju sekelompok penenun kain yang sedang bermain.

Tatkala al-Qadhi bertanya, "Mengapa kalian bermain..?"

Mereka menjawab, "Kami sedang mengisi waktu luang.."

Al-Qadhi kemudian menasihati cara mengisi waktu luang seraya membaca firman Allah,

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَ إِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

"Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Rabb-mu hendaknya engkau berharap..." (QS al-Insyirah: 7-8)

Yahya bin Ma'in bertanya kepada gurunya sembari berjalan karena takut tidak sempat mencatat saat guru mengambil kitab (Asy-Syama'I'll at-Tirmidzi: 60)

Lihatlah...

Bila saja dijual waktu luang kita, niscaya para ahli ilmu akan berucap,

"Boleh dibeli waktunya...?!"

B. Kekurangan Waktu (Sibuk)

Sebagaimana pun sibuknya kita, jangan sampai tiada waktu bercengkrama dengan keluarga, terutama anak.

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atas dirimu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluarga pun ada hak atas dirimu, maka berikan hak kepada setiap yang memilikinya...” (HR al-Bukhari)

Oleh sebab itu,

Ketika di luar rumah kita telah lama meninggalkan keluarga. Maka saat berada di rumah, bercengkramalah bersama anak keluarga.

Tak perlu membawa pekerjaan kantor ke rumah.

Jangan lagi, sibuk "memijit-mijit" benda kecil dalam genggaman (baca: hp) sembari senyum sendirian.

Sungguh miris tatkala saking inginnya bercengkrama dengan kita, sampai terucap dari lisan si kecil :

"Boleh dibeli waktunya...?!"

@sahabatilmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar